PERKEMBANGAN BAHASA / KOMUNIKASi

Pendahuluan

Secara etimologi Bahasa (language) yaitu sarana komunikasi dengan menyimbolkan pikiran dan perasaan untuk menyampaikan makna kepada orang lain, termasuk di dalamnya perbedaan bentuk komunikasi yang luas, seperti : tulisan, bicara, bahasa simbol, ekspresi muka, isyarat, pantomime dan seni. Menurut Hurlock (1978) komunikasi berarti suatu pertukaran pikiran dan perasaan. Pertukaran tersebut dapat dilaksanakan dengan setiap bentuk bahasa seperti : isyarat, ungkapan emosional, bicara, atau bahasa tulisan, tetapi komunikasi yang paling umum dan paling efektif dilakukan dengan bicara.

Komponen Bahasa

Elliot, Kratochwill, Littlefield, dan Travers (1999) membagi bahasa menjadi empat komponen, yaitu :

  1. Phonology (bunyi)          : penggunaan bunyi untuk membentuk kata.
  2. Syntax (tata bahasa)      : sistem yang digunakan untuk meletakkan kata-kata secara bersamaan dan membentuknya menjadi kalimat.
  3. Semantics (arti)            : arti dari kata-kata: hubungan antara ide dengan kata-kata.
  4. Pragmatics (penggunaan) : kemampuan untuk berpartisipasi dalam percakapan, menggunakan bahasa yang oleh masyrakat dianggap benar.

Tabel 1.

Urutan perkembangan Bahasa pada Bayi

Bahasa Usia
Menangis (crying)

Mendekut (cooing)

Mengoceh (babbling)

Kata-kata tunggal (single words)

Dua – kata frase (two-word phrases)

Frase yang lebih panjang (longer phrases)

Kalimat singkat dan pertanyaan

Sejak lahir

2 – 4 bulan

4 – 6 bulan

12 bulan

18 bulan

2 tahun

2 – 3 tahun

Tangis bayi dan anak juga merupakan bentuk bahasa, yaitu bahasa yang pertama-tama dipakai untuk menyampaikan isi kehidupan batiniahnya. Seiring dengan semakin bertambahnya umur anak, maka bahasanya pun makin berkembang pula, antara lain juga dengan menggunakan onomatopee, yaitu memberikan nama pada benda-benda/hewan, dengan menyebutkan bunyinya (onoma : nama : poiein : membuat, menirukan bunyi). Misalnya, anak memberikan nama “tut-tut” pada kereta api, “ngak-ngak” untuk angsa, “meong” untuk menyebutkan kucing, dan lain sebagainya. Selanjutnya secara berangsur-angsur anak akan memahami bahwa bahasa merupakan symbol dari benda dan pengertian tertentu.

Penguasaan bahasa pada anak akan berkembang menurut hokum alami, yaitu mengikuti bakat, kodrat, dan ritme perkembangan yang alami, namun perkembangan tersebut sangat dipengaruhi oleh lingkungan atau oleh stimuli eksternal (pengaruh lingkungan).

Dorongan Penggunaan Bahasa

Menurut Karl Buhler (dalam Kartono, 1990) terdapat tiga dorongan utama dalam penggunaan bahasa, yaitu :

  1. Kundgabe (pengumuman, maklumat, pemberitahuan) : ada dorongan yang merangsang anak untuk memberitahukan isi kehidupan batiniahnya, yaitu pikiran, perasaan, kemauan, harapan, fantasi diri, dan lain-lain kepada orang lain.
  2. Auslosung (pelepasan) : ada dorongan yang kuat pada anak untuk melepaskan kata-kata dan kalimat-kalimat sebagai hasil dari peniruan.
  3. Darstellung (pengungkapan, penyampaian, pemaparan) : anak ingin mengungkapkan keluar segala sesuatu yang menarik hati dan memikat perhatiannya.

Perkembangan Bahasa Menurut Stern

Suami istri Clara dan William Stern (dalam Kartono, 1990) membagi perkembangan bahasa anak yang normal dalam empat periode perkembangan , yaitu :

  1. Prastadium. Pada tahun pertama : meraban, dan kemudian menirukan bunyi-bunyi. Mula-mula menguasai huruf hidup, kemudian huruf mati, terutama huruf-huruf bibir. Lalu berlangsung proses reduplikasi atau pengulangan suku kata seperti : ma – ma, pa – pa, mam – mam, uk – uk, dan lain sebagainya.
  2. Masa pertama (kurang lebih 12 -18 bulan) : stadium kalimat-satu-kata. Satu perkataan dimaksudkan untuk mengungkapkan satu perasaan atau satu keinginan. Umpama kata “mama”, dimaksudkan untuk : “Mama, dudukkanlah saya di kursi itu! Mama, saya minta makan.”
  3. Masa kedua (kurang lebih 18-24 bulan) : anak mengalami stadium-nama. Pada saat ini timbul kesadaran bahwa setiap benda mempunyai nama. Jadi ada kesadaran tentang bahasa. Anak mengalami rasa ingin tahu tentang kata yang dihafal secara terus menerus kata-kata baru, dan ingin memahami artinya dengan jalan mengajukan pertanyaan sebanyak-banyaknya. Pada saat anak mulai meninggalkan kalimat-satu-kata, lalu mulai menggunakan dua atau tiga kata-kata sekaligus.
  4. Masa ketiga(kurang lebih 24-30 bulan) : anak mengalami stadium-flexi (flexi, flexico = menafsirkan, mengakrabkan kata-kata). Anak mulai menggunakan kata-kata kerja yang ditafsirkan, yaitu kata-kata yang sudah diubah dengan menambahkan awalan, akhiran, dan sisipan. Biasanya bentuk pertanyaan ditujukan pada pengertian nama benda-benda, letak benda (di mana), dan apakah benda itu.
  5. Masa keempat (mulai usia 30 bulan ke atas) : stadium anak kalimat. Anak mulai merangkaikan pokok pemikiran anak dengan penjelasannya, berupa anak kalimat. Pertanyaan anak kini sudah manyangkut perhubungan waktu (kapan, bila), dan kaitan sebab – musabab (mengapa). .

Besar kecilnya perbendaharaan bahasa anak sangat bergantung pada lingkungan budayanya, yaitu faktor orang tua, sekolah, dan milieu. Sehubungan dengan hal ini, sungguhpun bahasa anak-anak itu bengkang-bengkok dan tersendat-sendat, sebaiknya orang tua tidak usah ikut-ikutan menggunakan bahasa kacau ini dan tetap mengajarkan bahasa yang halus dan indah pada anak.

Kerancuan Bicara masa Kanak-Kanak yang Umum

Pada periode belajar bahasa tersebut, seringkali anak mengalami kerancuan bicara yang sifatnya umum. Hurlock (1978) membagi kerancuan bicara masa kanak-kanak menjadi empat, yaitu :

  1. Lisping berarti penggantian bunyi huruf. Pengganti yang paling umum adalah th untuk s, seperti dalam “thimple thimon” dan w untuk r, seperti dalam “wed wose”. Lisping biasanya disebabkan oleh kesalahan bicara kebayi-bayian. Hilangnya gigi depan mungkin menyebabkan gangguan temporer. Lisping pada orang dewasa biasanya timbul karena adanya ruangan di antara gigi atas depan.
  2. Slurring adalah bicara yang tidak jelas akibat tidak berfungsinya bibir, lidah, atau rahang dengan baik. Kadang-kadang slurring disebabkan oleh kelumpuhan organ suara atau karena otot lidah kurang berkembang. Apabila emosi terganggu atau merasa gembira, anak mungkin berkata tergopoh-gopoh tanpa mengucapkan setiap huruf dengan jelas. Slurring paling umum terjadi selama tahun-tahun pra sekolah sebelum bicara menjadi kebiasaan.
  3. 3. Stuttering (menggagap) adalah keragu-raguan, pengulangan bicara disertai dengan kekejangan otot kerongkongan dan diafragma. Stuttering timbul dari gangguan Pernafasan yang sebagian atau seluruhnya diakibatkan oleh tidak terkoordinasinya otot bicara. Hal ini mirip dengan seorang yang berada dalam keadaan takut yang menyebabkan ia seolah kehilangan kata-kata. Biasanya disertai dengan gemetaran, terhentinya bicara, dan sewaktu-waktu pembicara tidak sanggup mengeluarkan bunyi. Kemudian, apabila ketegangan otot berlalu, kata-kata membanjir ke luar dan kemudian diikuti dengan kekejangan yang lain. Stuttering dimulai pada waktu anak berusia 2, 5 dan 3,5 tahun. Normalnya stuttering menurun pada saat anak dapat melakukan penyesuaian rumah dan social yang lebih baik.
  4. Cluttering adalah berbicara dengan cepat dan membingungkan, yang sering keliru disamakan dengan stuttering. Biasanya terjadi pada anak yang pengendalian motorik dan perkembangan bicaranya terlambat. Cluttering merupakan kesalahan bicara berlebihan yang dilakukan oleh orang normal. Tidak seperti stuttering, cluttering dapat diperbaiki jika orang memperhatikan benar hal-hal yang ingin dikatakan.

Kondisi yang Menimbulkan Perbedaan dalam Belajar Berbicara

Telah disebutkan beberapa kali bahwa kemampuan anak dalam berbicara tidak sama antara satu anak dengan anak yang lain. Perbedaan-perbedaan tersebut antara lain dipengaruhi oleh beberapa kondisi (Hurlock, 1978), yaitu :

  1. Kesehatan
  2. Kecerdasan
  3. Keadaan sosial ekonomi
  4. Jenis kelamin
  5. Keinginan berkomunikasi
  6. Dorongan
  7. Ukuran keluarga
  8. Urutan kelahiran
  9. Metode pelatihan anak

10.  Kelahiran kembar

11.  Hubungan dengan teman sebaya

12.  Kepribadian

Mengenal Anak Gagap

Anak biasanya mulai senang berbicara akan tetapi seringkali terjadi ketidakseimbangan antara kecepatan dalam berbicara dengan kecepatan berfikir. Hal inilah yang dinamakan gagap. Kurangnya perhatian orang tua untuk mengatasi anak gagap dapat menyebapkan anak tersebut gagap hingga dewasa.Timbulnya gagap pada anak salah satunya dapat disebabkan karena adanya pengalaman traumatik pada diri anak. Penyebab-penyebab gagap yang lain diantaranya nervous, benturan kepala di bagian belakang.

Pendahuluan

Setiap manusia akan mengawali komunikasi dengan dunia melalui bahasa tangis. Melalui yang universal inilah bayi mengkomunikasikan semua keinginan serta kebutuhan. Bicara merupakan bentuk bahasa yang menggunakan artikulasi atau kata-kata yang digunakan untuk menyampaikan maksud. Karena bicara merupakan bentuk komunikasi yang paling efektif. Penggunaannya paling luas dan paling penting, akan tetapi pada tahun awal masa kanak-kanak tidak semua bicara digunakan untuk komunikasi. Pada waktu sedang bermain anak seringkali berbicara dengan dirinya sendiri atau dengan mainannya. Meskipun demikian, pada saat ingin menjadi bagian dari kelompok sosial berkembang. Maka sebagian besar bicara untuk berkomunikasi dengan yang lain dan hanya sewaktu-waktu berbicara terhadap mereka yang otomatis juga menentukan terbentuknya konsep diri.

Perkembangan berbicara tidak akan sama pada setiap anak. Pada umumnya perkembangan berbicara dikelompokkan dalam kelompok umur, hal ini dikarenakan ciri-ciri umum yang selalu ditemukan dalam kelompok. Akan tetapi tentu saja ada pengecualian, mungkin saja anak tertentu lebih cepat perkembangannya dan ada pula yang lambat. Tentu saja yang harus diperhatikan oleh calon guru atau guru adalah perkembangan yang umumnya dialami mereka ketika berbicara adalah bantuan yang paling berharga bagi mereka. Tentu saja berbicara dan memahami mereka tidak semudah berbicara dengan orang dewasa. Karena anak memiliki keterbatasan. Keterbatasan tertentu dalam berbicara dan berbahasa, maka di dalam melakukan komunikasi dengan mereka, orang yang dewasa harus menyadari kekurangan-kekurangan yang mereka miliki serta tidak membiarkan kekurangan mereka tersebut.

Anak biasanya mulai senang berbicara akan tetapi seringkali terjadi ketidakseimbangan antara kecepatan dalam berbicara dengan kecepatan berfikir. Anak sebenarnya ingin berbicara banyak, jadi fungsi fisiologis (otot bicara) belum sempurna, sehingga ia mudah tersandung. Di sekolah anak biasanya dihadapkan pada beberapa peraturan, misalnya pada suatu saat harus diam, tetapi disaat lain ia harus segera menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru, karena anak lain telah menunggu giliran sedangkan waktu sangat mendesak. Keadaan ini menyebabkan anak menjadi gugup sehingga bicaranya menjadi tersendat-sendat. Pada saat ini gerakan otot bicara belum sempurna, kadang-kadang sewaktu bicara ia menahan nafas sehingga tampak mulut dengan bibirnya tertarik ke pinggir. Seperti orang yang sedang mengejek, kadang juga diikuti dengan getaran-getaran kecil pada bibir. Anak yang seperti ini disebut dengan anak gagap, sebab anak yang menderita gagap. Tidak dapat berkomunikasi secara wajar atau tidak jelas atau tersendat. Pada gagap yang disebabkan oleh fungsi fisiologis yang belum sempurna ini akan hilang dengan sendirinya, ketika ia beranjak dewasa.

Tentang Anak Gagap

Gagap adalah pengulangan bunyi yang sama berkali-kali tanpa di sengaja. Gagap yang ringan banyak terdapat pada anak-anak, yaitu sekitar 3 sampai 4 persen anak-anak prasekolah ketika mereka melalui belajar menggabungkan kata-kata. Asalkan dibiarkan, itu biasanya hilang dengan sendirinya. akan tetapi, gagap ini tetap bertahan dan tidak hilang sekitar 1 persen anak-anak sekolah.

Anak yang menderita gagap tidak dapat berkomunikasi secara wajar. Anak gagap membutuhkan beberapa waktu untuk dapat mengucapkan kata yang ia maksudkan. Kalau sudah terlalu lama dia mengeja kata tersebut dan tetap sulit untuk diucapkan dia akan berhenti untuk mencoba dan menjadi diam.

Tanda-tanda yang diperhatikan oleh anak yang mengalami gagap bicara adalah sering mengulang atau memperpanjang suara, suku kata atau kata-kata sering terjadi keraguan dan pengertian bicara sehingga mengganggu arus irama bicara. Kadang-kadang sewaktu sedang bicara, ia menahan nafas sehingga tampak mulut dengan bibirnya tertarik ke pinggir, seperti orang yang sedang mengejek. Kadang-kadang diikuti dengan gerakan-gerakan kecil pada bibir. Sebagian besar anak yang gagap bicara dapat mengatasi kesulitannya pada saat mereka mencapai usia belasan. Bahkan dengan semakin canggihnya teknik penyembuhan, orang yang gagap sepanjang hidupnya dapat belajar mengatasi kesulitannya tersebut.

Pada penelitian ini penulis meneliti seorang anak yang pada saat ini sudah sembuh dari gangguan bicara (gagap). Nama Haris Dramendra Saragih Simarmata yang beralamat di Sigodang, kabupaten Simalungun (sumut). Anak dari A. Saragih Simarmata dan M. Damanik. Dia seorang pelajar, dari SMA Teladan Pematang Siantar.

Pada kasus anak ini, dia mulai mengalami gagap bicara sejak kecil, pada saat berusia 1 tahun. Dimana menurut penelitian seorang anak umur satu tahun sudah lancar berbicara.

Berikut ini di sajikan data gagap bicara pada anak yang bernama Haris Dramendra Simarmata. Bentuk bahasa gagap itu dapat berupa perulangan. Misalnya; Bunyi (m-m-m-mama), Suku kata (ma-ma-ma-mama), Kata (mama-mama-mama-mau ke mana?), Frasa (mama mu-mama mau-mama mau ke mana?), Bunyi memanjang, (mmmmmm … mama), Kesulitan untuk memulai (…………….. mama), Berhenti, yang sering tidak menentu.

Dari wawancara yang dilakukan penulis dengan kedua orang tuanya, ketika anak ini masih berumur 6 sampai 8 bulan anak ini tidak menunjukkan adanya gejala-gejala gagap berbicara. Dia sama saja dengan anak lainya, hanya saja pada saat itu belum sempurna untuk berbicara. Kegagapan berbicara yang di derita oleh Haris Dramendra Simarmata bermula dari benturan otak belakang Haris dengan lantai rumahnya (benda keras).

Dalam kasus ini orang tua Dramenra tidak pernah membawanya ke Dokter untuk melakukan pemeriksaan. Mereka hanya melakukan pendekatan-pendekatan. Seperti mengajarinya berbicara secara berkesinambungan dan tidak menunjukkan bahwa dia seorang anak yang gagap.

Timbulnya gagap pada anak dapat juga disebabkan karena adanya pengalaman traumatik pada diri anak, misalnya perceraian orang tua atau hal-hal lain yang belum diketahui dan belum tergali dari anak. Beberapa situasi yang menjadi pencetus timbulnya gagap pada anak usia balita, antara lain juga karena ia ingin mengutarakan keinginan atau pendapatnya dalam keadaan tergesa-gesa, sedang marah, merasa takut, cemas atau berhadapan dengan orang tertentu yang ia takuti. Penyebab-penyebab gagap diantaranya ialah Pemaksaan menggunakan tangan kanan pada anak kidal, Nervous, Benturan di kepala bagian belakang.

Pertama, adanya Pemaksaan menggunakan tangan kanan pada anak kidal yang disebabkan oleh fungsi bagian otak kanan yang dominan. Yang perlu dilakukan oleh guru atau orang tua adalah membiarkan anak memakai tangan kirinya untuk melakukan semua aktivitasnya. Jika tetap dipaksa akan menyebabkan gangguan pada bicara.

Kedua, Anak yang introvert (bersifat tertutup). Biasanya bila akan mengadakan pembicaraan anak merasa cemas atau takut, sehingga kata-kata yang keluar tidak terkoordinasi dengan baik. Misalnya akan mengucapkan kata “ibu”. Posisi bibir sudah baik, yaitu kedua bibir sudah terbuka sedikit, namun sepi…..suara “ibu” tidak kunjung muncul. Begitu udara keluar, apa yang diucapkan tidak terkendali, yang terdengar, “iiibbb..bu”. Bila menghadapi anak gagap yang demikian, guru/orang tua sedapat mungkin berusaha mendengar apa yang akan diucapkan anak, tunggu sampai anak selesai berbicara, jangan memotong pembicaraan anak sewaktu anak belum selesai berbicara walaupun bicaranya terputus-putus. Bila guru mau mendengar apa yang dibicarakan anak, walaupun tidak sempurna, akan menimbulkan keberanian pada anak untuk berbicara dengan gurunya, dan makin lama kegagapannya akan makin berkurang, keberanian berbicara dengan guru ini akan dibawanya juga pada pembicaraannya dengan orang lain, apabila orang lain juga menunjukkan sikap seperti gurunya tersebut. Pada anak gagap yang disebabkan nervous, guru jangan sekali-kali membicarakan kesukaran berbicara yang dialami anak apabila anak yang bersangkutan ada di sekitarnya.

Ketiga, Pada gagap yang disebabkan karena fungsi fisiologis yang belum sempurna tidak perlu dikhawatirkan, sebab dengan makin bertambahnya usia anak, makin bertambah matang fungsi otot bicaranya, sehingga anak akan dapat berbicara dengan sempurna. Tetapi latihan tetap perlu diberikan, agar kesulitan anak berbicara dapat dihilangkan. Dalam kasus yang relatif ringan, sebaiknya kegagapan itu dibiarkan saja. Bila anak gagap, meskipun kita cemas janganlah memberi komentar terlalu banyak, sebab ini hanya akan memperdalam kesadaran diri anak, dan kecemasan yang ditimbulkannya tidak akan menolong. Bila kegagapan ini tampaknya sangat parah, maka bantuan seorang ahli terapi bicara akan sangat membantu. Ia akan mengadakan pemeriksaan menyeluruh terhadap masalahnya dan kemudian menawarkan suatu cara penyembuhan, termasuk teknik pengajaran untuk mengatasi kesulitan tersebut. Anak akan diajarkan bagaimana supaya dapat relaks dan tenang, dan dibantu menemukan jalan lain untuk menghindari halangan bicaranya. Sebagian besar anak yang gagap dapat mengatasi kesulitannya pada saat mereka mencapai usia belasan. Bahkan dengan semakin canggihnya teknik penyembuhan, orang yang gagap sepanjang hidupnya dapat belajar mengatasi kesulitannya tersebut.

Gagap pada umumnya akan hilang pada usia remaja, tapi perlu ditangani sebaik mungkin agar gejala ini tidak menetap sampai usia dewasa. Dengan anak berbicara gagap akan terjadi pengulangan-pengulangan kata, kesalahan tata bahasa menjadi kebiasaan. Orang lain yang diajak bicara tidak akan bisa memahami apa yang telah mereka (anak gagap) bicarakan, karena semakin dia berbicara banyak akan semakin tidak jelas pembicaraannya. Anak yang mengalami gagap bicara dapat menimbulkan konsep diri dan perasaan rendah diri lama sebelum masa kanak-kanak berakhir.

Kesimpulan

  1. Anak gagap di kenal memiliki gejala-gejala yaitu bicaranya kelihatan bimbang, kata katanya terputus-putus, kadang-kadang terhenti pada suku kata, mengulangi kata yang sama dan memperpanjang bunyi.
  2. Seorang anak mengalami gagap bicara karena adanya pengalaman traumatik, mengutarakan pendapat dalam keadaan takut, pemaksaan menggunakan tangan kanan pada anak kidal, nervous, dorongan motorik bicaranya besar tetapi tidak ada yang hendak dikatakan.
  3. Gagap bicara pada anak bisa diatasi dengan Usahakan saat bicara posisi kita sejajar dengan anak, dalam suasana tenang dan santai, sabar mendengarkan dia bicara, dan jangan terlalu memperhatikan kegagapannya, Menenangkan hati anak, Membiarkan anak memakai tangan kirinya untuk melakukan semua aktivitasnya, Jangan memotong pembicaraan anak sewaktu anak belum selesai berbicara walaupun bicaranya terputus-putus, Melakukan terapi bicara.
  4. Pengaruh gagap bicara terhadap perkembangan bahasa yaitu gagap bicara akan memperlambat penguasaan kata dan pengucapannya tidak jelas.
  5. Gagap berbicara pada umumnya akan hilang pada usia remaja, tapi perlu ditangani sebaik mungkin agar gejala ini tidak menetap sampai usia dewasa. Bantuan seorang ahli terapi bicara yang menangani masalah gagap bicara sangat dibutuhkan agar gejala ini lebih cepat ditangani. Hendaknya orang tua selalu memperhatikan setiap perkembangan bahasa anak supaya apabila terjadi gangguan terhadap bahasa anak bisa cepat teratasi.
  1. 1. Gender analisis apa yang dipakai dalam buku tersebut ? Uraikan kasus dan tercantum dalam alinea berapa dan halaman berapa ?

Jawaban:

Pendekatan teoritis yang melatarbelakangi studi kenakalan pelajar ini adalah teori struktural fungsional yang dilandasi oleh fundamental pemikiran, bahwa keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat atau family is the basic unit of society. Keluarga mempunyai porsi peran yang sangat vital dalam mendidik dan mempersiapkan anak-anaknya untuk menyesuaikan diri ke dalam kehidupan luar. Tanpa ada peran dan fungsi keluarga, maka generasi muda tidak akan mempunyai karakter dan  perilaku yang baik dikemudian hari.

Teori struktural-fungsional juga menyangkut teori sistem yang menjelaskan adanya komponen-komponen yang saling tergantung antara satu dengan yang lain (Klein dan White, 1996). Dalam studi ini digunakan logika berpikir secara teori struktural-fungsional dan teori sistem, bahwa keluarga terdiri dari anggota-anggota keluarga yang saling berpengaruh satu dengan yang lain. Keluarga mempunyai aturan dan keluarga menjalankan fungsinya. Apabila keluarga mempunyai struktur yang kokoh dan menjalankan semua fungsinya dengan optimal, maka akan menghasilkan outcome yang baik pada seluruh anggota keluarganya.

Di samping peraturan dan fungsi yang ada di keluarga, pihak sekolah juga mempunyai andil yang besar dalam mengembangkan aspek kognitif dan psikomotorik dari pelajar. Dengan kata lain, lingkungan tersebut memberikan kontribusi pada perkembangan anak. Dengan demikian jelas dikatakan, bahwa ada keterkaitan yang erat antara individu (perkembangan remaja), keluarga (sebagai fondasi primer dari remaja) dan masyarakat (sebagai pengaruh baik atau buruknya perkembangan kepribadian anak) (sesuai dengan Model Ekologi Keluarga Berkaitan dengan Sosialisasi Anak dari Bronfenbrenner, 1981).

Kenakalan pelajar merupakan suatu outcome dari suatu proses hubungan antara anggota keluarga tersebut dan antara sistem keluarga dan sistem lingkungan di sekitarnya. Adanya gangguan dalam fungsi keluarga, khususnya fungsi sosialisasi dan pendidikan mengakibatkan buruknya interaksi antara orangtua dan remaja. Ditambah dengan adanya hubungan yang cenderung negatif antara remaja dengan lingkungan di sekitarnya, baik dengan teman sekolah maupun tetangga dekat yang dikombinasikan dengan agresivitas dari pelajar itu sendiri maka secara perlahan-lahan akan mempengaruhi kenakalan remaja (Willis, 1994; Kartono, 1986, BKKBN, 2006).

Kualitas kehidupan keluarga secara tegas disebutkan memainkan peranan yang paling besar dalam membentuk perilaku remaja menjadi nakal. Kehidupan keluarga yang tidak harmonis, baik karena perceraian, pertengkaran, maupun karena orangtuanya hidup terpisah menyebabkan anak kurang mendapat perhatian dan kasih sayang. Pengasuhan dan komunikasi yang tidak seimbang antara ayah dan ibu mengakibatkan tidak terpenuhinya kebutuhan fisik (sandang, pangan, dan pemeliharaan kesehatan), dan kebutuhan kasih sayang anak remaja (bonding dan kualitas hubungan) (Kartono, 1986).             Hal ini akhirnya membuat anak merasa tidak pernah mendapatkan keinginan dan harapan yang memuaskan dari latihan fisik (disiplin kerja dan belajar) dan kontrol diri (mental) yang baik. Sebagai dampak akhir dari semua ini adalah tidak dicapainya outcome remaja dengan baik, seperti prestasi belajar dan kepercayaan diri.

Ditambahkan oleh West dan Farrington (Mussesn et al., 1989), bahwa karakteristik pribadi remaja akan mempengaruhi tingkat kenakalannya. Remaja yang nakal pada umumnya lebih mempunyai kecenderungan untuk bersikap sombong, menentang, melawan pihak yang berkuasa, kurang mempunyai motivasi untuk mencapai keberhasilan, keras kepala, penuh curiga, destruktif, dan kurang mampu mengendalikan diri dibandingkan dengan remaja yang tidak nakal.

Kerangka berpikir secara konseptual diturunkan dari model sosialisasi anak oleh Bronfenbrenner yang menunjukkan bahwa perilaku kenakalan remaja dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu : (1) Karakteristik pribadi anak (sesuai dengan pendapat dari Simon, 1996; Willis, 1994), (2) Karakteristik keluarga melalui mediator pengasuhan dan komunikasi keluarga (sesuai dengan pendapat Conger dan Elder, 1996; Simon, 1996; Gunarsa dan Gunarsa, 1995, 1995; Willis, 1994), dan (3) Lingkungan teman bermain dan lingkungan sekolah (sesuai dengan pendapat Conger dan Elder, 1996; Simon, 1996). (halaman 13-14 alinea 1-7)

  1. 2. Uraikan perbedaan hubungan dan perilaku antara: (1) ayah dan anak laki-laki, (2) ayah dan anak perempuan, (3) ibu dan anak-anak laki-laki, (4) ibu dan anak perempuan (Uraikan kasus dan tercantum dalam alinea berapa dan halaman berapa ).

Jawaban:

Ayah dan Anak Laki-laki

  • Seorang ayah di Negara Barat dengan tegas mendidik anak laki-lakinya mengenai bagaimana membedakan hal-hal yang salah atau benar dan lebih memperhatikan kesuksesan anak laki-lakinya (halaman 83 alinea 3)
  • Ayah mensosialisasikan apa yang diharapkan laki-laki terhadap perempuan dan mensosialisasikan bagaimana seorang laki-laki memberi arahan dan nasehat pada perempuan (halaman 84 alinea 2 no 6)
  • Bagi anak laki-laki, ayah menjadi model (role model), teladan untuk perannya kelak sebagai seorang laki-laki (halaman 86 alinea 2)
  • Pada contoh anak laki-laki adalah perlakuan ayah yang mencintai dengan hangat, dan menghargai pendapat anak laki-lakinya (halaman 100 alinea 1)
  • Perlakuan kekerasan dari ayah terhadap anaknya terutama yang berhubungan dengan perlakuan fisik seperti memukul dan menarik rambut atau pakaian apabila marah dialami oleh sekitar sepersepuluh contoh laki-laki (halaman 100 alinea 2)
  • Proporsi contoh anak laki-laki adalah lebih tinggi dalam mempunyai hubungan yang hangat dan mendukung yang dilakukan oleh ayahnya terhadapa anaknya untuk perilaku menanyakan pendapat, mendengarkan dengan cermat, dan mencintai dengan hangat (halaman 100 alinea 3)

Ayah dan Anak Perempuan

  • Bonding antara ayah dan anak perempuannya adalah selamanya dan tidak dapat terpisahkan meskipun sudah menikah, artinya anak perempuan akan tetap menjadi anak perempuan bagi ayahnya. Bahkan seorang anak perempuan dapat menjadi sumber kebahagiaan yang lebih tinggi bagi ayahnya dibandingkan dengan anak laki-lakinya, dan sebaliknya seorang anak perempuan mungkin dapat membuat ayahnya menangis dibandingkan dengan anak laki-lakinya (Alam, 1999). (halaman 83 alinea 3)
  • Pada contoh perempuan adalah perlakuan ayah yang tertawa bersama apabila ada hal-hal yang lucu (halaman 100 alinea 1)
  • Kurang dari seperlima contoh perempuan melaporkan adanya hubungan yang keras dan kasar dari ayah terhadap anaknya yang tercermin dalam perilaku ayah yang marah-marah, mengkritik pendapat, membentak atau berteriak, mengabaikan, mengancam, membuat perasaan bersalah, memukul, menarik rambut, bertengkar, menangis tersedu-sedu apabila tidak puas dengan perbuatan anaknya, menyindir atau sumpah serapah, berbicara dengan kasar, dan memanggil dengan panggilan yang jelek terhadap anaknya (halaman 100 alinea 2)
  • Perlakuan kekerasan dari ayah terhadap anaknya terutama yang berhubungan dengan perlakuan fisik seperti memukul dan menarik rambut atau pakaian apabila marah dialami oleh sekitar kurang dari seperduapuluh contoh perempuan (halaman 100 alinea 2)
  • Proporsi contoh perempuan adalah lebih tinggi dalam mempunyai hubungan yang hangat dan mendukung yang dilakukan oleh ayahnya terhadap anaknya untuk perilaku memberitahu kalau peduli, membantu mengerjakan sesuatu, tertawa bersama, dan mengatakan cinta dibandingkan dengan contoh laki-laki (halaman 100 alinea 1)
  • Pada anak perempuan mempunyai kecenderungan untuk mempunyai kualitas interaksi yang lebih memburuk apabila perilaku kekerasan lebih datang dari pihak ayah dibandingkan dari pihak ibu (halaman 126 alinea 1)

Ibu dan Anak Laki-laki

  • Perhatian ibu lebih kepada makanan daripada hal yang lainnya dan memberikan kenyamanan bagi anak laki-lakinya dibandingkan dengan anak perempuannya (halaman 83 alinea 3)
  • Perlakuan kekerasan dari ibu terhadap anaknya terutama yang berhubungan dengan perlakuan fisik seperti memukul dan menarik rambut atau pakaian apabila marah dialami oleh sekitar seperlima contoh laki-laki (halaman 101 alinea 2)
  • Perilaku ibu yang bersifat kekerasan dan kekasaran terhadap anaknya lebih tinggi terjadi pada contoh laki-laki untuk hampir semua butir pernyataan dibandingkan dengan contoh perempuan, kecuali perilaku marah-marah, mengkritik, dan bertengkar pada anaknya (halaman 101 alinea 3)
  • Anak laki-laki mempunyai kecenderungan untuk mempunyai kualitas interaksi yang lebih memburuk apabila perilaku kekerasan lebih datanag dari pihak ibu dibandingkan dari pihak ayah (halaman 126 alinea 1)

Ibu dan Anak Perempuan

  • Ibu mensosialisasikan apa yang diharapkan perempuan terhadap laki-laki dan mensosialisasikan bagaimana seorang perempuan memberi arahan dan nasehat kepada laki-laki (halaman 84 alinea 2 no 6).
    • Hubungan kehangatan dan dukungan yang paling maksimal dilakukan oleh ibu adalah perlakuan ibu yang menghargai pendapat dan perbuatan anaknya, dan tertawa bersama apabila ada hal yang lucu (untuk contoh perempuan saja) (halaman 101 alinea 1)
    • Proporsi contoh perempuan adalah lebih tinggi dalam mempunyai hubungan yang hangat dan mendukung yang dilakukan oleh ibu terhadap anaknya untuk semua pernyataan (halaman 101 alinea 3)
  1. 3. Uraikan jenis kenakalan pelajar laki-laki dan perempuan (Uraikan kasus dan tercantum dalam alinea berapa dan halaman berapa).

Jawaban :

Kartono (1986) membedakan empat tipe kenakalan yang terdiri atas:

  1. Kenakalan terisolir yang merupakan kelompok mayoritas karena tidak menderita kerusakan psikologis, yang artinya bahwa kenakalan remaja ini tidak didorong oleh motivasi kecemasan. Ciri-ciri anak remaja ini adalah berasal dari daerah-daerah kota yang transisional yang memiliki subkultur kriminal, berasal dari keluarga yang tidak harmonis, berantakan dan mengalami banyak frustasi, berasal dari keluarga yang tidak disiplin.
  2. Kenakalan neurotik yang menderita gangguan yang cukup serius dan mempunyai ciri-ciri bahwa tingkah laku kenakalannya bersumber pada sebab-sebab psikologis yang mendalam, tindakan merupakan ekspresi dari konflik batin yang belum terselesaikan, memiliki ego yang lemah.
  3. Kenakalan psikopatik yang merupakan perbuatan kriminal yang sangat berbahaya yang biasanya berasal dari keluarga yang ekstrim, berdisplin keras namun tidak konsisten, tidak mampu menyadari rasa bersalah dan berdosa.
  4. Kenakalan defect moral yang artinya cacat mental dengan ciri selalu melakukan tindakan tindakan anti-sosial atau asosial walaupun pada dirinya tidak terdapat gangguan kognitif.

Secara empiris, analisis faktor-faktor yang mengukur kenakalan pelajar, khususnya dari laporan pelajar sendiri mengindikasikan adanya keeratan dimensi-dimensi sehingga dapat menjelaskan satu dengan yang lainnya. Hasil pada analisis SEM juga menunjukkan adanya dua dimensi (bidimensionality) dari kenakalan pelajar, yaitu kenakalan jenis umum dan kenakalan jenis kriminal yang terbukti dengan adanya korelasi antar variabel laten yang sangat kuat. Secara terpisah, kenakalan umum terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu dimensi kenakalan umum dan dimensi kenakalan kriminal baik untuk contoh laki-laki maupun perempuan. Berdasarkan bukti-bukti empiris, maka dapat dibuktikan bahwa pengukuran kenakalan pelajar atau teenage delinquencies menunjukkan tingkat reliabilitas dan validasi yang sangat tinggi. Oleh karena itu, variabel kenakalan pelajar selanjutnya dapat dijadikan sebagai satu variabel komposit yang terdiri atas dua indikator, yaitu kenakalan umum dan kenakalan kriminal (halaman 157 alinea 2).

Kenakalan Umum. Kenakalan umum adalah perilaku penyimpangan dari norma yang merugikan diri sendiri namun masih belum melanggar hukum formal seperti membolos, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, menyontek, tidak membayar SPP karena terpakai, pesta sampai larut malam, duduk-duduk di pinggir jalan, menggoda ‘cewek-cewek atau cowok-cowok’ di jalanan, dan merokok serta terlambat sekolah (halaman 157 alinea 3).

Hasil menunjukkan bahwa sekitar dua per tiga sampai tiga per empat contoh melaporkan tentang kebiasaan perilakunya yang bergerombol atau berombongan saat pulang atau pergi ke sekolah, dan pulang sekolah langsung main dahulu, terlambat datang ke sekolah. Adapun kebiasaan contoh membolos sekolah tanpa izin dilaporkan oleh lebih dari setengah contoh. Sedangkan kebiasaan minggat dari rumah minimal pernah dilakukan oleh hampir seperlima contoh.

Berdasarkan analisis gender, hasil uji statistik menunjukkan bahwa kenakalan umum dan kenakalan kriminal serta kenakalan total contoh laki-laki lebih tinggi dari contoh perempuan. Selanjutnya kebiasaan merokok pada contoh dilaporkan oleh hampir setengah contoh dengan frekuensi kebiasaan merokok yang dilakukan hampir setiap hari. Adapun kebiasaan menggoda lawan jenis di jalanan dilaporkan oleh hampir tiga per empat contoh dengan kebiasaan duduk-duduk di pinggir jalan mengganggu orang dan berpesta pora sampai malam hari. Kenakalan umum yang cenderung berpeluang besar terhadap kenakalan kriminal yang dilakukan oleh contoh cukup memprihatinkan dan berhubungan dengan penggunaan media menuju kebebasan seks yaitu menonton VCD porno dan melihat gambar porno yang pernah dilakukan oleh setengah contoh. Kenakalan jenis umum ini dapat mengarah pada kenakalan jenis kriminal, yaitu menuju pergaulan seks bebas yang tidak sedikit berkaitan dengan kasus perkosaaan. (halaman 159 alinea 1-2)

Hasil menunjukkan bahwa perbuatan kenakalan umum lebih banyak dilakukan oleh contoh laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Contoh laki-laki mendominasi perbuatan kenakalan umum mulai dari membolos sekolah tanpa penjelasan, berpesta pora sampai malam, duduk-duduk di pinggir jalan mengganggu orang, menggoda ‘cewek-cewek atau cowok-cowok’ di jalanan, minggat dari rumah, dan merokok. Contoh perempuan banyak melakukan perbuatan kenakalan umum seperti membolos sekolah tanpa penjelasan, berpesta pora sampai malam, minggat dari rumah, dan merokok.

Kenakalan Kriminal. Kenakalan kriminal adalah perilaku penyimpangan dari norma dan bahkan melanggar hukum formal yang merugikan diri sendiri dan merugikan serta menyakiti dan menimbulkan korban fisik berat kepada orang lain. Kenakalan kriminal menyangkut perbuatan yang ditangkap polisi karena berkelahi, narkoba, minuman beralkohol, atau membawa senjata tajam ; masuk rumah orang tanpa izin; mencuri barang; memukul dan menyerang dengan senjata; melakukan hubungan seks di luar nikah; bermasalah dengan keluarga, sekolah, dan teman karena minum minuman beralkohol dan narkoba dan kemudian merasa dikucilkan karena perbuatannya; berkelahi, grafiti atau ‘corat-coret’ tembok; mengambil barang orang lain, dan merusak benda orang lain dengan sengaja; minum minuman beralkohol, narkoba, menyuntik morphin, ‘nge-lem’, menonton dan melihat gambar porno; serta menyangkut membawa senjata tajam. (halaman 160 alinea 1-2)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa responden mempunyai masalah dalam perilaku sosialnya, khususnya dalam kenakalan kriminal. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan karena dapat merugikan, baik dirinya sendiri, sekolah, dan juga bagi keluarganya. Beberapa masalah perilaku sosial yang ditemukan adalah penggunaan minuman beralkohol, narkoba, perkelahian, bolos sekolah, bahkan penggunaan senjata tajam.

Berdasarkan analisis data, terdapat (14,4 persen) contoh yang memiliki kebiasaan minum minuman beralkohol, dan (8,8 persen) contoh menggunakan narkoba. Akibat kebiasaan-kebiasaan ini maka muncul berbagai masalah yang dirasakan oleh 14 persen contoh adalah merasa dikucilkan karena kebiasaan-kebiasaan tersebut. Bahkan menurut laporan (7,5 persen) contoh, mereka pernah ditangkap polisi karena berkelahi, narkoba, atau mabuk, (10 persen) contoh yang tertangkap polisi karena terkena razia, dan (9,3 persen) contoh ditangkap polisi karena melanggar hukum. Kenakalan kriminal yang paling banyak dilakukan oleh responden adalah bergerombol saat pulang atau pergi ke sekolah (71,5 persen), mencorat-coret tembok milik umum atau orang lain (52,6 persen), berpesta pora sampai malam (41,1 persen), berkelahi dengan sesama pelajar meskipun frekuensinya jarang (40 persen), dan secara sengaja merusak benda milik orang lain (34,5 persen).

Kenakalan kriminal lain yang pernah dilakukan contoh dan cukup membahayakan adalah memukul seseorang sampai terluka (20,4 persen), memukul seseorang dengan senjata (12,3 persen),dan membawa senjata tajam ke sekolah (13,0 persen). Selain itu juga ditemukan ada (25,3 persen) contoh yang menghalalkan segala cara demi kelancaran rencana yang akan dilakukan, (4,6 persen) contoh melaporkan pernah mencuri barang seharga lebih dari Rp 250.000 dan (7 persen) contoh mengendarai motor atau mobil milik orang lain tanpa permisi dan (7,8 persen) contoh pernah menggunakan senjata atau kekuatan untuk mendapatkan uang atau barang dari orang lain.

Hasil juga menunjukkan bahwa kurang dari seperduapuluh contoh sekolah negeri (4,6 persen) dan sepersepuluh contoh sekolah swasta (12,2 persen) pernah melakukan hubungan seks bebas di luar nikah (free sex) dengan frekuensi hampir tiap hari, maksimum tiga kali per minggu dan satu kali per bulan. (halaman 161 alinea 1-4)

Hasil menunjukkan bahwa perbuatan kenakalan kriminal lebih banyak dilakukan oleh contoh laki-laki dibandingkan perempuan dengan perincian :

  1. Melakukan hubungan seks di luar nikah dialami oleh (5 persen) contoh perempuan dan (8 persen) contoh laki-laki.
  2. Berkelahi dengan sesama pelajar dialami oleh oleh (17 persen) contoh perempuan dan (46 persen) oleh contoh laki-laki.
  3. Memukul seseorang sampai terluka dilakukan oleh (12 persen) contoh perempuan dan (22 persen) contoh laki-laki dan memukul dengan senjata dilakukan oleh (5 persen) contoh perempuan dan (14 persen) contoh laki-laki.
  4. Minum minuman beralkohol dilakukan oleh (8 persen) contoh perempuan dan (16 persen) contoh laki-laki.
  5. Mengkonsumsi narkoba dialami oleh (6 persen) contoh perempuan dan (10 persen) contoh laki-laki.
  6. Mencuri barang dilakukan oleh (2 persen) contoh perempuan dan (6 persen) contoh laki-laki.
  7. Ditangkap polisi karena berkelahi, narkoba atau mabuk atau terkena razia senjata tajam dialami oleh (2 persen) contoh perempuan dan (12 persen) contoh laki-laki. (halaman 162 alinea 1)
  1. 4. Uraikan proses kenakalan pelajar (Uraikan kasus dan tercantum dalam alinea berapa dan halaman berapa).

Jawaban :

  1. Terlambat sekolah yang dikarenakan oleh “nongkrong” di jalanan, pergi “keluyuran”, atau sekedar “iseng-iseng” melakukan sesuatu yang mengganggu kelancaran proses belajar di sekolah.
  2. Menyelewengkan uang SPP untuk membiayai perilaku yang tidak sejalan dengan kegiatan proses belajar dan berbohong kepada orangtua.
  3. Merokok yang membutuhkan biaya cukup besar dan diambil dari uang SPP dan kemudian ketagihan untuk merokok setiap hari.

Ketiga perbuatan kenakalan umum di atas merupakan ‘pintu gerbang’ untuk melakukan perbuatan kenakalan yang lebih tinggi. Untuk itu para orangtua dan guru harus mewaspadai gejala kenakalan pelajar yang dimulai dari tiga kriteria utama ini.  (halaman 167-168 alinea 1)

Nama saya Eka Istikhomah umur saya 19 tahun, Saya lahir pada tanggal 28 juli 1990 di Demak Jawa Tengah saya mahasiswa Institute Pertanian Bogor (IPB) fakultas Ekologi Manusia, dengan departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK).. Saya berasal dari Jawa Timur-Surabaya suku jawa tepatnya sekarang saya tinggal di Gresik salah satu kabupaten yang ada di Jawa Timur.

Saya memasuki IPB dengan program beasiswa Badan Utusan Daerah Departemen Agama (BUD Depag). Penerimaan bulanan saya Rp 750.000 dan pengeluaran saya kira-kira sekitar Rp 500.000- Rp 750.000. tempat tinggal kos saya sementara di Wisma Kenanga jalan raya dramaga no.28 kabupaten Leuwikopo rt.01 rw.02 babakan dramaga Bogor.

Keluarga saya beranggotakan lima orang yang terdiri dari ayah, ibu, saya dan dua adik saya. Saya anak pertama, adik saya yang kedua perempuan seorang mahasiswa, dan adik saya yang terakhir laki-laki akan memasuki jenjang pendidikan SMA, karena baru lulus SMP. Orang tua saya kedua-duanya bukan berasal dari jawa timur. Ayah berdarah jawa tengah demak, ibu juga bukan berasaldari jawa, ibu berasal dari NTT-flores. Kami singgah di Surabaya karena ayah dinas di daerah tersebut.

Umur ayah 47 tahun sedangkan ibu saya 43 tahun. Pendidikan kedua-duanya SMA, ayah berprofesi sebagai TNI-AL marinir dan ibu berprofesi sebagai ibu rumah tangga.

Keadaan perkonomian keluarga kami, alhamdulillah mencukupi. Disamping itu beban keluarga saya terbantu dengan adanya saya mendapatkan beasiswa di IPB sehingga keluarga saya tidak perlu membyar kuliah saya, rata–rata pendapatan total keluarga per bulan sekitar >Rp 2000.0000

Tuntutan kelurga terhadap kesuksesan saya sangat terencana, mengedepankan adanya posisi atau kedudukan yang tinggi, karena menurut keluarga saya semakin tinggi kesuksesan saya dalam studi saya membuat saya memilki kedudukan  yang tinggi pula pada masyarakat dengan menyesuaikan kemampuan yang saya miliki, sehingga tidak ada paksaan ataupun tuntutan yang keras untuk menyukseskan studi saya, dan hal itu membuat saya harus menguras energi, waktu, bhakan hampir membuat saya kelelahan hingga jatuh sakit. Namun hal itu semua tidak membuat saya putus asa, justru menantang saya pada kesulitan-kesulitan yang saya hadapi ssehingga dapat menjadikan saya mampu untuk menuju tingkat kesuksesan selanjutnya.

Saya tidak mempunyai perencanaan belajar yang baik, hal terpenting bagi saya adalah ketika saya mengerjakan sebuah tugas kuliah, belajar sebelum ujian bagi saya, saya harus sudah bisa atau menyelesaikan semua tugas saya  sebelum waktunya.

Untuk mendapatkan nilai terbaik saya harus berusaha lebih keras sampai penghabisan. Sejauh ini saya sudah mulai belajar lebih keras lagi untuk mencapai nilai yang terbaik sesuai dengan usaha saya, saya mampu menyelesaikan tugas saya dengan cukup baik tanpa harus mengganggu kesehatan saya. Bagi saya boleh kita lembur untuk belajar, mengerjakan tugas sampai larut malam asalkan kita harus mampu menyeimbangkan dengan pola hidup, pola makan yang baik sehingga kesehatan kita dapat terjaga dengan baik dan tidak akan sakit. Sejauh ini saya sedang berusaha dengan sekuat tenaga untuk menaikkan IP, IPK, dan prestasi saya tanpa harus mengganggu aktivitas yang lainnya. Saya mulai dengan menyelesaikan tugas kuliah saya lebih awal, sedikit demi sedikit belajar alias menyicil. Sekarang ini saya sedang dalam tahap peningkatan yang lebih baik dan akan menjadi terbaik.

Saya itu orangnya supel, suka bergaul, tapi saya orangnya agak tertutup dengan orang lain tanpa membiarkan teman-teman saya menghindari saya, saya orangnya moody jadi terkadang saya sangat semangat untuk kuliah atau berprestasi namun terkadang saya sangat frustasi bahkan bosan dengan kuliah saya. Sehingga saya biasa menyiasati dengan melakukan kegiatan-kegiatan sekinagn seperti nonton tv, dvd, olahraga pagi, bermain bersama teman-teman sambil berbagi cerita.

Hubungan sosial antara saya dengan oratng tua saya sangat baik. Kami sering melakukan komunikasi jarah jauh hanya sekedar untuk menyakan kabar, memberikan nasehat, dan motivasi, bahkan solusi.

Hubungan sosial saya dengan saudara kandung sangat baik, kami sering berkomunikasi , bertukar informasi, berbagi cerita, dan saling membantu dalam menyelesaikan tugas baik tugas yang sepele sampai yang rumit. Sedangkan hubungan saya dengan keluarga luas baik kami saling berkomunikasi jarak jauh, saling berkunjung saat moment spesial seperti saat hari lebaran. Dan juga kami saling membantu dalam menyelesaikan persoalan keluarga.

Hubungan sosial antara saya dengan teman-teman sangat baik, bahkan kami saling memberi solusi ketika kami ada masalah, dan kita saling share dan terbuka satu sama lain baik masalah di dalam maupun di luar, baik masalah pribadi maupun masalah bersama. Kami saling mengerti satu sama lain keadaan tiap-tiap individu, dan mampu bergerak cepat dan bergotong royong dalam berbagai hal.

Hubungan sosial antara saya dengan teman spesial sangat baik, kami juga saling terbuka satu sama lain, walaupun terkadang kami selalu berdebat soal perbedaan pendapat, namun hal itu tidak membuat kami pisah sekalipun, konflik terjadi hanya berlangsung sementara setelah itu kita berbaikan lagi tanpa ada kata maaf. Dan hal itu membuat kami dapat mengetahui satu sama lain perbedaan dan kesamaan diantara kami.

Persepsi saya tentang arti keluarga adalah sekelompok individu yang menyatu atau terikat dengan suatu ikatan darah, adopsi, maupun pernikahan yang terdir dari suami dan istri, suami istri dan anak yang saling berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama yaitu mencapai kesejahteraan bersama secara lahir maupun batin.

Menjadi seorang perempuan itui sangat menyenangkan ,saya sangat mensyukurinya. Seorang perempuan itu mudah mengeluarkan air mata, karena disitulah seorang wanita dapat mengekpresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan, dan kebanggaan. Dia berkorban demi orang yang dicintai, mampu berdiri melawqan ketidakadilan, , hatinya begitu sedih mendengar sakit dan kematian, tetapi dia selalu mempunyai kekuatan untuk mrngatsi kesulitan hidup Cuma satu yang kurang dari wanita yaitu dia lupa bahwa betapa berharganya dia.

Menjadi seorang ibu sangat membanggakan dia menerjunkan dirinya untuk keluarga dia ,menangis saat melihat kelahiran, dia menangis saat melithat anakanya menjadi pemenang,

Arti pekerjaan bagi saya sangatlah penting karena jika dilihat dari segi perkonomian materi merupakan modal yang sangat penting dalam keberlangsunagn hidup baik dimasa sekarang maupun mendatang. Pengertian pekerjaan adealah suatu profesi atau bidang yang saya tekuni berdasarkan dengan kemmpuan yang dimiliki dalam sutu bidang teretentu.

Arti seorang anak sangat penting dalam berbagai sudut panadang. Dari segi aspek ekonominya anak merupakan sumberdaya yang dapat digunakan untuk memproduksi barang dan jasa yang dapat dikonsumsi rumah tangga. Dari aspek l;ain juga mengatakan bahwa anak merupakan suatu anugerah yang membawa kebahagiaan dalam suatu keluarga, anak dilahirkan untuk meneruskan generasi berikutnya.

Nasehat orangtua saya tentang hal-hal yang berhubungan dengan tujuan / arti berkeluarga ketika saya mempunyai keluarga atu sudah berkeluarga saya dapat hidup dengan sejahtera dengan di karuniai seorang anak dan dengan kehidupan materi yang tercukupi.sehingga akan tercipta suatu kesejahteraan dalam suatui keluarga.

Nasehat orangtua saya menjadi seorang perempuan itu harus lembut namun tetap kuat, tegar, mandiri dan tidak cengeng. Tidak peduli perempuan atau laki-laki yang penting saya mampu melakukan pekerjaan perempuan maupun laki-laki sesuai dengan kemampuan saya.

Menjadi seorang ibu nantinya harus bisa menjadi ibu yang berpendidikan sehingga dalam mengasuh anak nanti dapat dilakukan dengan benar dan baik, menuruti kata suami namun tetap mempunyai hak untuk berpendapat.

Nasehat orangtua saya terhadap pekerjaan saya tidak menunutut saya unutk mnejadi bos atau apa, orangtua memberi kebebasan saya untuk berkarir. Namun ada satu keinginan orangtua saya yaitu mereka ingin saya masuk di Pegawai Negri Sipil (PNS).

Menjadi seorang anak itu tidak boleh melawan orangtua, anak diberi kebebasan berpendapat atau berdiskusi dengan baik, tidak boleh merasa lebih pintar. Seorang anak juga haru dapat membanggakan mereka dengan prestasi yang dapat saya raih dengan baik.

Cita-cita saya menjadi seorang desainer interior dan pengusaha property. Minimal saya mampu bebrbisnis di bidang yang saya minati. Sejauh ini saya belum mendapatkan suatu bayangan pada departemen yang saya masuki sekarang yang pada nantinya akan membawa saya kedalam suatu profesi yang berkaitan dengan departemen saya.

Cita-cita yang berhubungan dengan keluarga saya ketika saya sukses nanti saya ingin menghajikan orangtua saya, membelikan rumah, mobil, dan menyekolahkan adik-adik saya sampai perguruan tinggi. Saya juga akan membukakan suatu usaha cathering yang kan dikelola oleh orangtua saya nantinya.

Persepsi saya tentang gender yaitu posisi laki-laki maupun perempuan dapat melakukan peran satusama lain dengan batasan-batasan sewajarnya.

Dalam pembagian peran ayah dan ibu saya adalah ayah mempunyai peran sebagai kepala keluaraga, beliau memimpin dalam setiap pengambilan keputusan. Sedangkan ibu mempunyai peran yang sangat penting terhadap pengambilan keputusan, karena ibu memiliki kemampuan dalam mempengaruhi suatu pengambialn keputusan ayah. Ibu dianggap mempunyai hubungan kedekatan yang sangat tinggi sehingga dalam berpendapat ibu selalu memegang peranan penting dalam memberi pengaruh terhadap suatu pengambilan keputusan.

Ketika saya berkeluarga nanti saya ingin memiliki pembagian peran dalam keluarga yang adil. Saya ingin ketika suami saya dapat bekerja, suami tidak melarang saya untuk bekerja diluar rumah dengan syarat saya tidak mengabaikan asuhan terhadap anak saya. Saya ingin dalam pengambilan keputusan saya mempunyai andil dalam berpendapat ataupun perngambilan keputusan. Saya juga ingin terdapat interaksi yang baik dalam suaatu hubungan keluarga sehingga akan terjalin hubungan yang baik pula baik terhadap suami maupun anak.